Tafsir Pada Zaman Shahabat
Adapun metode sahabat dalam menafsirkan al-Qur’an adalah;
Menafsirkan Al-Qur’an
dengan Al-Qur’an, menafsirkan Al-Qur’an dengan sunnah
Rasulullah, atau dengan kemampuan
bahasa, adat apa yang mereka dengar dari Ahli kitab (Yahudi
dan Nasroni) yang masuk Islam
dan telah bagus keislamannya.
Diantara tokoh mufassir pada masa ini adalah:
Khulafaurrasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman,
Ali), Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin
Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin
Zubair dan Aisyah. Namun yang paling banyak menafsirkan dari
mereka adalah Ali bin Abi
Tholib, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas yang
mendapatkan do’a dari Rasulullah.
Penafsiran shahabat yang didapatkan dari Rasulullah
kedudukannya sama
dengan hadist marfu’.
3 Atau paling kurang adalah Mauquf.
TAFSIR
ALQURAN PADA MASA RASULULLAH DAN SAHABAT.
Disamping rasulullah adalah satu-satunya tokoh yang dapat
memahami alquran secara kesluruhan, beliau juga mengemban tugas untuk
menjelaskan tiap hal yang terkandung dalam alquran,
Demikian pula yan terjadi dalam dikalangan sahabat, mereka dapat
memahami alquran sebagaimana rasulullah kecuali hal-hal yang sangat detail,
Ibnu Khaldun mengungkapkan:” Alquran diturunkan dalam bahasa arab dan gaya
bahasa orang arab, oleh karena itu seluruh sahabat nabi dapat memahaminya,
hanya saja tingkat pemahaman mereka berbeda-beda”. Ibnu Qutaibah bekata:
“orang-orang arab tidak sama tingkat pemahamannya pada lafadz-lafadz gharib dan
mutasyabih yang terdapat dalam Al quran, sebagian dari mereka melebihi yang
lain” .
Pada masa penafsiran Al quran yang pertama ini para sahabat
berpegang pada tiga hal dalam menafsiri Al quran: 1. Al quran. Memang dalam
satu bagian Al quran terdapat ayat yang bersifat mujmal, akan tetapi pada
bagian yang lain ditemukan ayat yang bersifat mubayyan , atau suatu ayat
diturunkan dalam bentuk mutlaq atau ‘am kemudian diturunkan ayat lain yang
berbentuk muqayyad atau mukhassis, dengan adanya macam-macam sifat dari ayat
yang diturunkan dalam Al quran tersebut para sahabat menggunakan satu ayat
untuk memahami ayat yang lain. Metode penafsiran ini disebut dengan metode
penafsiran Al quran dengan Al quran.
2. Rasulullah Ketika para sahabat mendapat kesulitan dalam
memahami isi dari suatu ayat Al quran, maka mereka akan mendatangi Nabi
Muhammad SAW untuk mendapatkan penjelasan dari beliau. Diriwayatkan dari Ibnu
Mas’ud, beliau berkata: “ ketika diturunkannya ayat الذين
أمنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم….الأية “…yaitu
orang-orang yang beriman dan tidak mencampur aduk iman mereka dengan perbuatan
dzalim…” , para sahabat merasa sangat terbebani dan kesulitan untuk
menyesuaikan diri dengan keterangan yang ada dalam ayat tersebut, kemudian
mereka bertanya kepada Nabi SAW: “siapakah daintara kami yang tidak mendzalimi
dirinya sendiri?, Nabi menjawab: bukanlah pengertian dari ayat tersebut seperti
yang kalian maksudkan, bukankah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba
yang shalih (luqman as.): ان الشرك لظلم عظيم sesunguhnya
yang dimaksud الظلم adalah perbuatan syirik”.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Adakalanya Rasulullah juga memberi penjelasan suatu ayat tanpa
didahului oleh pertanyaan para sahabat, seperti yang diceritakan dari sahabat
Uqbah bin ‘amir ra. سمعت رسول الله صتى الله عليه وسلم
يقول وهو على المنبر: وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة, ألآ وان القوة الرمى. “ aku (Uqbah bin ‘amir) pernah mendengar
Rasulullah bersabda diatas mimbar: persiapkanlah diri kalian (sahabat) untuk
menghadapi mereka (orang-orang kafir) dengan kekuatan yang kalian mampu/kuasai,
dan ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah”
3. Ijtihad Apabila tidak ditemukan penjelasan tentang suatu ayat
, baik dalam Al quran maupun dari keterangan Nabi, maka para sahabat dengan
kemampuan mereka sebagai orang arab yang dapat dipastikan mengerti serta
memahami bahasa arab dari segala sisinya, berijtihaduntuk memahami maksud dari
ayat tersebut. Beberapa sahabat yang dikenal sebagai mufassir adalah: Abu Bakar
as Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib,Ibnu Mas’ud,
Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al Asyari, Abdullah bin
Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin
Umar bin Ash dan Sayyidah Aisyah. Jumhur ulama berpendapat bahwa tafsir bil
ma’tsur oleh sahabat ini mencapai derajat marfu’ apabila mempunyai tendensi
asbabun nuzul atau penafsiran tersebut termasuk dalam liangkup bahasan hal-hal
yang tidak tidak bisa ditelusuri secara rasio. Dan apabila penafsiran tersebut
tentang hal-hal yang bisa dinalar dan tidak disandarkan kepada Nabi, maka hukum
tafsiran sahabat tersebut adalah mauquf.
Akan tetapi sebagian ulama’ berpendapat “ meskipun tafsir
sahabat termasuk dalam peringkat mauquf, penafsiran tersebut harus kita terima,
karena para sahabaat adalah orang-orang yang ahli dalam bahasa arab sehingga
sangat menunjang terhadap terbentuknya pemahaman yang benar pada Al quran, dan
mereka mengetahui dengan pasti situasi serta kondisi yang berhubungan dengan
suatu ayat ketika diturunkan”. Dalam kitab Al Burhan, Az Zarkasyi berkata:
“ketahuilah bahwa penafsiran Al quran terbagi menjadi dua macam, adakalanya
berdasarkan riwayat hadist Nabi atau sahabat dan adakalanya tidak berdasarkan
riwayat hadist. Pada macam tafsir yang pertama bisa jadi penafsiran tersebut
datang dari penjelasan Rasulullah atau dari keterangan yang diberikan oleh
sahabat atau para pembesar tabiin, untuk penafsiran yang datangnya dari Nabi
SAW, kita tinggal memeriksa kesahihan sanadnya, sedangkan untuk penafsiran yang
datang dari sahabat, kita harus memeriksa ulang penafsiran tersebut dalam
kitab-kitab yang memuat penfsiran-penafsiran sahabat. Jika mereka menafsiri Al
quran dari segi bahasa, maka tidak diragukan lagi kemampuan mereka dalam hal
itu, dan selanjutnya kita bisa menggunakannya sebagai pegangan, begitu pula
tentang penafsiran suatu ayat yang asbabun nuzul dan qarinah-qarinah yang
berhubungan dengan ayat tersebut diketahui oleh para sahabat”. Ibnu Katsir
dalam pembukaan tafsirnya mengatakan: “Pada saat ini, jika kita tidak menemukan
penafsiran oleh Alquran atau sunnah Rasullullah, maka kita harus kembali kepada
aqwal sahabat ,karena mereka menyaksikan secara langsung situasi dan kondisi
yang berlangsung pada saat diturunkannya suatu ayat, serta mereka mempunyai
pemahaman yang sempurna, juga ilmu dan amal yang shalih, apalagi para pembesar
mereka seperti, Khulafaurrasyidin, Imam Arba’ah dan Ibnu Mas’ud”. Dalam masa
yang pertama ini belum ada sama sekali pembukuan terhadap tafsir, dan tafsir
masih menjadi salah satu bagian dari bahasan hadits, oleh karena itu
tafsir-tafsir ayat Al quran yang sudah ada masih tersebar dalam beberapa hadits
dan belum mencakup seluruh ayat Al quran.
HADIST
KORUPSI
Tindak
kejahatan berupa korupsi tampaknya sudah diingatkan pula oleh para Ulama
Indonesia masa lalu yang kini mereka sudah wafat. Bahkan sampai diberi contoh
kasusnya, pejabat menandatangani kontrak dengan pihak lain lalu mendapatkan
komisi, maka itu korupsi namanya. Hal itu sudah dijelaskan dalam hadits, yang
dalam kasus ini Imam Ibnu Katsir mengemukakan beberapa hadits dalam menafsiri
QS. Ali-‘Imran [3] ayat 161.
وَمَا
كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
[آل عمران/161]
Tidak mungkin seorang nabi
berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat
dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa
apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan
tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak
dianiaya.(QS. Ali-‘Imran [3] : 161)
Imam
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dalam tafsirnya dengan mengemukakan beberapa
hadits tentang ancaman neraka.
عَنْ
أَبِى مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «
أَعْظَمُ الْغُلُولِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِرَاعٌ مِنَ الأَرْضِ
تَجِدُونَ الرِّجْلَيْنِ جَارَيْنِ فِى الأَرْضِ أَوْ فِى الدَّارِ فَيَقْتَطِعُ
أَحَدُهُمَا مِنْ حَظِّ صَاحِبِهِ ذِرَاعاً فَإِذَا اقْتَطَعَهُ طُوِّقَهُ مِنْ
سَبْعِ أَرَضِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ».
Dari Abi Malik Al-Asyja’i dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Ghulul (pengkhianatan/
korupsi) yang paling besar di sisi Allah adalah korupsi sehasta tanah, kalian
temukan dua lelaki bertetangga dalam hal tanah atau rumah, lalu salah seorang
dari keduanya mengambil sehasta tanah dari bagian pemiliknya. Jika ia
mengambilnya maka akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi pada hari Qiyamat. (HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
Shahihut Targhiib wt Tarhiib II/ 380 nomor 1869)
Hadits-hadits
lain yang berhubungan dengan korupsi sangat jelas:
940 حَدِيثُ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ ظُلْمًا طَوَّقَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ
Diriwayatkan dari Said bin Zaid
bin Amr bin Nufail radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Barangsiapa mengambil sejengkal
tanah secara dhalim, maka Allah akan mengalungkan di lehernya pada Hari Kiamat
nanti dengan setebal tujuh lapis bumi. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah
saw pernah bersabda:
(( مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَل ، فَكَتَمَنَا
مِخْيَطاً فَمَا فَوْقَهُ ، كَانَ غُلُولاً يَأتِي به يَومَ القِيَامَةِ ))
Barangsiapa di antaramu kami
minta mengerjakan sesuatu untuk kami, kemudian ia menyembunyikan satu alat
jahit (jarum) atau lebih dari itu, maka perbuatan itu ghulul (korupsi) harus
dipertanggung jawabkan nanti pada Hari Kiamat. (HR. Muslim)
عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ قَالَ حَدَّثَنِى عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا
كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ أَقْبَلَ نَفَرٌ مِنْ صَحَابَةِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه
وسلم- فَقَالُوا فُلاَنٌ شَهِيدٌ فُلاَنٌ شَهِيدٌ حَتَّى مَرُّوا عَلَى رَجُلٍ
فَقَالُوا فُلاَنٌ شَهِيدٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «
كَلاَّ إِنِّى رَأَيْتُهُ فِى النَّارِ فِى بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ ».
ثُمَّ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا ابْنَ الْخَطَّابِ اذْهَبْ
فَنَادِ فِى النَّاسِ إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ الْمُؤْمِنُونَ ».
قَالَ فَخَرَجْتُ فَنَادَيْتُ « أَلاَ إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ الْمُؤْمِنُونَ
». رواه مسلم
Abdullah bin Abbas berkata,
Umar bin Al-Khatthab menceritakan kepadaku, ia berkata: “Bahwa pada perang
Khaibar beberapa sahabat menghadap Rasulullah seraya mengatakan: Fulan mati
syahid dan Fulan mati syahid sehingga mereka datang atas seorang lelaki maka
mereka berkata: Fulan mati syahid. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab: Tidak, sesungguhnya saya melihatnya ada di neraka, karena ia
menyembunyikan sehelai burdah (baju) atau aba’ah. Kemudian Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai Ibnul Khatthab, pergilah maka serukan kepada
orang-orang bahwa tidak masuk surga kecuali orang-orang mu’min.” Ia (Umar)
berkata: Maka aku keluar lalu aku serukan: Ingatlah sesungguhnya tidak masuk
surga kecuali orang-orang mu’min. (HR.
Muslim)
1086
حَدِيثُ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : اسْتَعْمَلَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الْأَسْدِ
يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَمْرٌو وَابْنُ أَبِي عُمَرَ عَلَى الصَّدَقَةِ
فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا لِي أُهْدِيَ لِي قَالَ فَقَامَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ
اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ فَيَقُولُ هَذَا
لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ فِي بَيْتِ
أُمِّهِ حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ
بِيَدِهِ لَا يَنَالُ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةٌ لَهَا
خُوَارٌ أَوْ شَاةٌ تَيْعِرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ
إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ مَرَّتَيْنِ *
Diriwayatkan dari Abu Humaid
as-Saaidi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah memberi tugas kepada seorang lelaki dari Kaum al-Asad yang
dikenali sebagai Ibnu Lutbiyah. Ia ikut Amru dan Ibnu Abu Umar untuk urusan
sedekah. Setelah kembali dari menjalankan tugasnya, lelaki tersebut berkata
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ini untuk Anda dan ini untukku
karena memang dihadiahkan kepadaku. Setelah mendengar kata-kata tersebut, lalu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar. Setelah
mengucapkan puji-pujian ke hadirat Allah, beliau bersabda: “Adakah patut
seorang petugas yang aku kirim untuk mengurus suatu tugas berani berkata: Ini
untuk Anda dan ini untukku karena memang dihadiahkan kepdaku? Kenapa dia tidak
duduk di rumah bapak atau ibunya (tanpa memegang jabatan apa-apa) sehingga ia
menunggu, apakah dia akan dihadiahi sesuatu atau tidak? Demi Dzat Muhammad yang
berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari kalian mengambil sesuatu
darinya kecuali pada Hari Kiamat kelak dia akan datang dengan memikul di atas
lehernya (jika yang diambil itu seekor unta maka) seekor unta itu akan
mengeluarkan suaranya, atau seekor lembu yang melenguh atau seekor kambing yang
mengembek. “ Kemudian beliau mengangkat kedua-dua tangannya tinggi-tinggi
sehingga nampak kedua ketiaknya yang putih, dan beliau bersabda: “Ya Allah!
Bukankah aku telah menyampaikannya,” sebanyak dua kali * (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
1085
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَامَ فِينَا رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَذَكَرَ الْغُلُولَ
فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ ثُمَّ قَالَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ يَقُولُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا
أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ
حَمْحَمَةٌ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ
شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ
أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ نَفْسٌ لَهَا صِيَاحٌ
فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا
قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى
رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ
لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ * 1085 حَدِيثُ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَذَكَرَ الْغُلُولَ فَعَظَّمَهُ
وَعَظَّمَ أَمْرَهُ ثُمَّ قَالَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ
أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ
فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا
قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى
رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ يَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ
لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ نَفْسٌ لَهَا صِيَاحٌ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا
أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ
تَخْفِقُ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ
شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَجِيءُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ فَيَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي
فَأَقُولُ لَا أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ *
Diriwayatkan dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam berada bersama kami, beliau menceritakan dengan begitu serius tentang
orang yang suka menipu dan khianat. Kemudian beliau bersabda: Pada Hari Kiamat
nanti, aku akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan memikul
seekor unta yang sedang melenguh di atas tengkuknya dan berkata: Wahai
Rasulullah! Tolonglah aku. Lalu aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak
berwewenang apa-apa lagi untuk (menolong)mu, semuanya telah aku sampaikan
(larangan itu) kepadamu. Pada Hari Kiamat nanti, aku juga akan bertemu dengan
salah seorang dari kamu datang dengan memikul seekor kuda yang sedang meringkik
di atas tengkuknya. Dia berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Lalu aku
katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai wewenang apa-apa lagi untuk
(menolong)mu, semuanya sudah aku sampaikan kepadamu. Seterusnya pada Hari
Kiamat nanti, aku akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan
memikul seekor kambing yang sedang mengembek di atas tengkuknya. Dia berkata: Wahai
Rasulullah! Tolonglah aku. Maka aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak
mempunyai wewenang apa-apa untuk (menolong)mu, semuanya sudah aku sampaikan
kepadamu. Begitu juga pada Hari Kiamat nanti, aku akan bertemu dengan salah
seorang dari kamu datang dengan memikul seorang manusia yang sedang menjerit di
atas tengkuknya. Dia berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Lalu aku katakan
kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai wewenang apa-apa untuk(menolong)mu,
semuanya sudah aku sampaikan kepadamu. Pada Hari Kiamat nanti, aku juga akan
bertemu dengan salah seorang dari kamu datang dengan membawa selembar pakaian
yang compang-camping di atas tengkuknya dan dia berkata: Wahai Rasulullah!
Tolonglah aku. Maka aku katakan kepadanya: Aku sudah tidak mempunyai wewenang
apa-apa untuk(menolong)mu, semuanya sudah aku sampaikan kepadamu. Begitu juga
pada Hari Kiamat nanti, aku akan bertemu dengan salah seorang dari kamu datang
dengan memikul sejumlah harta terdiri dari emas dan perak di atas tengkuknya
dan berkata: Wahai Rasulullah! Tolonglah aku. Maka aku katakan kepadanya: Aku
sudah tidak mempunyai wewenang apa-apa untuk (menolong)mu, semuanya telah aku
sampaikan kepadamu * (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
71
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خَيْبَرَ فَفَتَحَ اللَّهُ
عَلَيْنَا فَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلَا وَرِقًا غَنِمْنَا الْمَتَاعَ
وَالطَّعَامَ وَالثِّيَابَ ثُمَّ انْطَلَقْنَا إِلَى الْوَادِي وَمَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدٌ لَهُ وَهَبَهُ لَهُ رَجُلٌ مِنْ
جُذَامَ يُدْعَى رِفَاعَةَ بْنَ زَيْدٍ مِنْ بَنِي الضُّبَيْبِ فَلَمَّا نَزَلْنَا
الْوَادِي قَامَ عَبْدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَحُلُّ رَحْلَهُ فَرُمِيَ بِسَهْمٍ فَكَانَ فِيهِ حَتْفُهُ فَقُلْنَا هَنِيئًا
لَهُ الشَّهَادَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَّا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ الشَّمْلَةَ
لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارًا أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ لَمْ تُصِبْهَا
الْمَقَاسِمُ قَالَ فَفَزِعَ النَّاسُ فَجَاءَ رَجُلٌ بِشِرَاكٍ أَوْ شِرَاكَيْنِ
فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَصَبْتُ يَوْمَ خَيْبَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شِرَاكٌ مِنْ نَارٍ أَوْ شِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ
*
Diriwayatkan daripada Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju ke Khaibar. Allah memberikan kemenangan
kepada kami, tetapi kami tidak mendapatkan harta rampasan perang berupa emas
atau perak. Kami hanya memperoleh barang-barang, makanan dan pakaian. Kemudian
kami berangkat menuju ke sebuah lembah dan terdapat seorang hamba bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam milik beliau yang diberikan oleh
seorang lelaki dari Judzam. Hamba itu bernama Rifa'ah bin Zaid dari Bani
Ad-Dhubaib. Ketika kami menuruni lembah, hamba Rasulullah itu berdiri untuk
melepaskan pelananya, tetapi dia terkena anak panah dan ternyata itulah saat
kematiannya. Kami berkata: Ketenanganlah baginya dengan Syahid wahai Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak mungkin! Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya,
sesungguhnya sehelai baju yang diambilnya dari harta rampasan perang Khaibar,
yang tidak dimasukkan dalam pembahagian akan menyalakan api Neraka ke atasnya. Abu Hurairah berkata: Maka terkejutlah orang-orang Islam. Lalu
datanglah seorang lelaki dengan membawa seutas atau dua utas tali pelana, lalu
berkata: Wahai Rasulullah, aku mendapatkannya semasa perang Khaibar. Lalu
Rasulullah s.a.w bersabda: Seutas atau dua utas tali pelana itu dari Neraka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar